Oktober 28, 2011

pengendalian lalat buah jambu air

Assalamualaikum by. Budi Sulistyawan. SP Email. Sulistbudy@yahoo.com
Lalat Buah (Bactrocera sp.)
Ordo : Diptera Famili : Tephritidae
Lalat buah (Bactrocera spp.) merupakan salah satu hama yang banyak menimbulkan kerugian pada tanaman hortikultura, baik yang dibudidayakan secara luas maupun tanaman pekarangan seperti mangga, belimbing, jambu, nangka, semangka, melon, pare, cabai, dll. Akibat serangan hama ini produksi dan mutu buah menjadi rendah, bahkan tidak jarang mengakibatkan gagal panen, karena buah berjatuhan sebelum masak atau buah menjadi rusak saat dipanen sehingga tidak layak jual atau tidak layak konsumsi.
Gejala
Pada buah yang terserang biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengah kulitnya. Serangan lalat buah ditemukan terutama pada buah yang hampir masak. Gejala awal ditandai dengan noda/titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur) lalat betina saat meletakkan telur ke dalam buah. Selanjutnya karena aktivitas hama di dalam buah, noda tersebut berkembang menjadi meluas. Larva makan daging buah sehingga menyebabkan buah busuk sebelum masak. Apabila dibelah pada daging buah terdapat belatung-belatung kecil dengan ukuran antara 4-10 mm yang biasanya meloncat apabila tersentuh. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini mencapai 30-60%. Kerusakan yang ditimbulkan oleh larvanya akan menyebabkan gugurnya buah sebelum mencapai kematangan yang diinginkan.
Pengendalian
Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi adalah saat buah menjelang masak. Lalat buah dapat dikendalikan dengan berbagai cara mulai dari biologi, mekanis, kultur teknis dan kimia. Di alam lalat buah mempunyai musuh alami berupa parasitoid dari genus Biosteres dan Opius dan beberapa predator seperti semut, sayap jala (Chrysopidae va. (ordo Neuroptera)), kepik Pentatomide (ordo Hemiptera) dan beberapa kumbang tanah (ordo Coleoptera). Peran musuh alami belum banyak dimanfaatkan mengingat populasinya yang rendah dan banyaknya petani yang mengendalikan hama menggunakan insektisida. Parasitoid dan predator ini lebih rentan terhadap insektisida daripada hama yang diserangnya.
Cara mekanis:
1. Pengumpulan dan pemungutan sisa buah yang tidak dipanen terutama buah sotiran untuk menghindarkan hama tersebut menjadi inang potensial, akan menjadi sumber serangan berikutnya. Pengendalian mekanis juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan buah yang busuk atau sudah terserang kemudian dibenamkan kedalam tanah atau dibakar.
2. Pembungkusan buah mulai umur 1,5 bulan untuk mencegah peletakan telur (oviposisi), merupakan cara mekanik yang paling baik untuk diterapkan sebagai antisipasi terhadap serangan lalat buah.
Bahan pembungkus
Petani biasanya menggunakan kertas, kertas karbon, plastik hitam, daun pisang, daun jati, atau kain untuk membungkus buah yang tidak terlalu besar seperti belimbing dan jambu. Untuk buah yang berukuran besar, seperti nangka, petani biasa menggunakan anyaman daun kelapa, karung plastik, atau kertas semen. Setiap jenis pembungkus memiliki kelebihan dan kekurangan.

Syarat bahan pembungkus
Apa pun bahan pembungkus yang digunakan harus memenuhi persyaratan: bahan tidak mudah rusak, bahan berwarna gelap, dan bahan membantu menjaga kelembaban dalam bungkusan.
Waktu pembungkusan
Kapan buah harus dibungkus tergantung dari jenis buahnya. Misalnya, buah belimbing harus sedini mungkin dibungkus. Buah mangga dibungkus sebelum buah memasuki stadium pemasakan. Lalat buah tertarik pada warna kuning dan aroma buah masak atau aroma amonia yang dikeluarkan oleh beberapa jenis bunga dan buah, jadi membungkus buah sedini mungkin bisa efektif mengurangi serangan lalat buah.
3. Pengasapan.
Upaya membungkus buah untuk menghindari serangan lalat buah akan semakin efektif jika dibarengi dengan pengasapan. Tujuan pengasapan adalah mengusir lalat buah dari kebun. Pengasapan dilakukan dengan membakar serasah atau jerami sampai menjadi bara yang cukup besar. Kemudian bara dimatikan dan di atas bara ditaruh dahan kayu yang masih lembab. Pengasapan di sekitar pohon dapat mengusi lalat buah dan efektif selama tiga hari. Pengasapan selama 13 jam bisa membunuh lalat buah yang tidak sempat menghindar
4. Kotak perangkap yang di dalamnya diletakkan bahan pemikat lalat buah, antara lain menggunakan daun Selasih (Ocimum sp.) yang banyak tumbuh di ladang atau di tempat terbuka lainnya. Tanaman selasih mengandung minyak asiri, saponin, flavanoid, tanin, dan senyawa geranoil, methyl eugenol (ME), linalol serta senyawa lain yang bersifat menguap. Minyak selasih dilaporkan mengandung ME > 65 %.
Cara penggunaan
Untuk menarik/mengendalikan lalat buah, selasih dapat dimanfaatkan secara langsung atau disuling dulu untuk mendapatkan minyaknya.
Penggunaan secara langsung caranya : 1) daun selasih 10 – 20 helai dibungkus dengan kain strimin, kemudian diremas-remas, lalu masukkan ke dalam perangkap; 2) daun selasih dicincang dengan pisau 2 – 3 cm, selanjutnya dibungkus kain strimin dan dimasukkan pada alat perangkap.
Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan pengolahan tanah (membalik tanah) di bawah pohon/tajuk tanaman dengan tujuan agar pupa terangkat ke permukaan tanah sehingga terkena sinar matahari dan akhirnya mati.

« Manajemen Pengendalian Hama Tanaman
Zat Pengatur Tumbuh untuk Perangsang Bunga »
Pengendalian Lalat Buah
Februari 3, 2010 oleh plantus
Lalat buah (Dacus sp.) merupakan hama yang menyerang tanaman buah mulai stadia buah masih muda dengan menimbulkan tingkat kerusakan yang parah saat buah menjadi matang.
Kerusakan yang timbul dimulai dari lalat buah betina yang siap bertelur menyuntikkan telurnya ke dalam buah muda. Perkembangan selanjutnya adalah menetasnya larva berupa ulat yang memakan daging buah dan bahkan terdapat lubang kecil sebagai tempat keluar dari ulat tersebut. Dengan demikian buah akan membusuk dari dalam dan rontok.
Langkah pengendalian yang paling mudah adalah dengan menjaga kebersihan sekitar tanaman buah ataupun kebun dengan membuang dan membakar sampah daun dan buah yang busuk, membungkus buah sejak dini yaitu saat telah menjadi buah kecil (fruit set) dengan menggunakan kertas koran, plastik, dan lain-lain. Namun langkah tersebut tidak mengurangi populasi lalat buah yang berkembang. Salah satu jalan adalah dengan menggunakan perangkap lalat buah yaitu Metil Eugenol. Metil eugenol merupakan feromon sintetis (buatan) atau hormon penarik (attractan) lalat buah jantan yang dipunyai lalat betina untuk mengadakan perkawinan.
Cara kerja penggunaan feromon ini adalah dengan meneteskan 0,5 – 1 ml hormon ini ke potongan kapas yang dibentuk gulungan kecil dan digantung dengan menggunakan kawat, selanjutnya pada kapas yang sama diteteskan secukupnya (0,2 – 0,5 ml) insektisida seperti Diazinon, Dursban, Supracide, dan lain-lain. Penempatan gulungan kapas ini diletakkan di suatu tempat berupa botol aqua plastik yang pada bagian dasar botol dibuat berlubang untuk ventilasi, sehingga bau metil eugenol dapat tercium dua arah. Lalat yang tertarik dan menempel di kapas beberapa saat akan mati setelah bersentuhan dengan campuran metil eugenol dengan insektisida. Dengan demikian populasi lalat jantan akan berkurang, sehingga berdampak dengan tingkat keberhasilan panen buah yang berkualitas.
Produk yang tersedia dalam bentuk cairan dengan merk Petrogenol, yang dikemas dalam botol 5 ml.

Pengelolaan Hama Lalat Buah
Tuesday, 10 May 2011 02:10 Subdit Buah

PENGELOLAAN HAMA LALAT BUAH SKALA LUAS
PADA TANAMAN MANGGA
Pengelolaan hama lalat buah skala luas atau area wide management (AWM) pada tanaman mangga merupakan kerjasama teknis antara pemerintah Indonesia (melalui Direktorat Jenderal Hortikultura) dengan pemerintah Australia (melalui ACIAR-Australian Centre for International Agricultural Research). Kerjasama ini berlangsung pada tahun 2010-2014.
Selama beberapa dekade terakhir, sudah banyak negara di dunia yang menerapkan pendekatan skala luas untuk pengelolaan hama utama dan menjadikannya sebagai salah satu bagian penting dari pengendalian hama terpadu (PHT). Untuk pengelolaan OPT skala luas pada buah tropika, kegiatan ini merupakan yang pertama di Asia. Pendekatan ini didefinisikan sebagai ‘bentuk kampanye jangka panjang untuk mengubah populasi serangga hama ke status non-ekonomi (di bawah ambang batas ekonomi)’. AWM lalat buah ini akan dilakukan dengan metode pengendalian ramah lingkungan yang sesuai dengan kondisi agro-ekologi dan sosio-ekonomi dari lokasi terpilih.
Di Indonesia, industri mangga berkembang cukup luas. Indramayu merupakan salah satu sentra produksi mangga. Mangga dari Indramayu dikenal sebagai buah yang cukup disenangi, di dalam maupun di luar negeri. Tetapi, lalat buah, salah satu hama utama mangga, dapat menyebabkan penurunan kuantitas dan kualitas. Kehilangan hasil karena serangan lalat buah dapat mencapai 80%. Selama ini, belum banyak pengelolaan khusus dan terpadu dalam skala luas untuk menangani permasalahan lalat buah, sehingga masih sangat penting untuk terus melakukan pengkajian yang tepat untuk mengendalikan lalat buah.
Pengelolaan hama lalat buah skala luas ini bertujuan untuk memperkenalkan beberapa teknik menanggulangi hama lalat buah, antara lain dengan penggunaan umpan protein, Male Annihilation Technologies (MAT), dan sanitasi untuk mengurangi populasi lalat buah dan kerugian akibat hama tersebut. Kabupaten Indramayu dipilih menjadi lokasi pelaksanaan, karena selain merupakan sentra produksi mangga, di Indramayu terdapat fasilitas Instalasi Pengamatan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Lokasi implementasi kerjasama di Kabupaten Indramayu dengan cakupan luas tanaman 100 ha, yaitu di Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang dan Desa Sliyeg Lor, Kecamatan Sliyeg. Sedangkan lokasi kontrol adalah di Desa Cikedung, Kecamatan Cikedung.

hidden

3. Pemasangan Perangkap Lalat Buah
Dalam kerjasama ini perlu diketahui gambaran populasi lalat buah di lapang, sebelum perlakuan, selama perlakuan,dan setelah perlakuan. Untuk itu, perlu dipasang perangkap lalat buah dengan tujuan untuk monitoring populasi lalat buah. Perangkap dilengkapi dengan sumbu yang diberi atraktan (zat penarik) dicampur dengan insektisida malathion untuk mematikan lalat buah. Jenis atraktan yang digunakan adalah methyl eugenol (ME) dan Cue-lure. Perangkap lalat buah yang dipasang di area perlakuan sebanyak 24 perangkap ME dan 7 (tujuh) perangkap Cue-lure, sedangkan di lokasi kontrol dipasang 4 (empat) perangkap ME dan 2 (dua) perangkap Cue-lure.
(A) (B)
Gambar 3. Pemasangan perangkap lalat buah (A), contoh perangkap lalat buah (perangkap ME) (B)
(foto oleh : Arif-Ditlinhor)
Setiap bulan, sumbu dalam perangkap ditambahkan ME/Cue-lure dan insektisida dengan perbandingan ME/Cue-lure dan insektisida 4 ml : 1 ml. Pengamatan perangkap dilakukan setiap minggu, lalat buah yang terperangkap dihitung jumlahnya dan disimpan. Secara berkala, dipilih koleksi lalat buah yang bagus kondisinya, kemudian dikirim ke pakar taksonomi untuk diidentifikasi.
hidden
Gambar 4. Lalat buah tertarik perangkap ME, sebagian
terperangkap di dalamnya (foto oleh : Arif-Ditlinhor)
4. Wooden Block (Male Annihilation Technologies)
Teknologi pengendalian lain yang diterapkan adalah MAT (Male Annihilation Technologies) dengan menggunakan wooden block (kayu blok) berukuran 5 x 5 cm2 dan tebal ±1 cm. Kayu blok tersebut dilubangi bagian tengahnya sebagai tempat untuk menancapkan paku pada pohon.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam persiapan kegiatan ini adalah :
 Penyiapan kayu blok
Selain ME, bahan lain yang digunakan adalah insektisida berbahan aktif fipronil. Kayu blok yang telah disiapkan harus direndam 24 jam dengan campuran larutan ME dan insektisida fipronil dengan perbandingan 4 bagian ME : 1 bagian insektisida. Setelah perendaman, dilakukan penirisan selama 24 jam. Kemudian kayu blok dikemas dalam kontainer plastik yang dialasi dengan alumunium foil untuk dibawa ke lapang. Dalam penanganan pembuatan kayu blok ini, pembuatan kayu blok perlu diperhatikan keamanan petugas terhadap insektisida. Untuk itu, diperlukan perlengkapan pengaman, yaitu mengenakan safety mask yang dilengkapi dengan organic vapor filter dan sarung tangan karet.
 Pemasangan ME kayu blok
Kayu blok dipasang pada tanaman mangga dengan jarak interval ± 50 m, dipaku setinggi ± 2 m pada batang tanaman mangga. Kayu blok ditambah tiap dua bulan sekali, mengingat kayu blok sebelumnya telah berkurang efektivitasnya. Pada pohon yang dipasang kayu blok perlu dilakukan penandaan dengan cat berwarna terang untuk memudahkan pengamatan.
hidden
Gambar 5. Penirisan kayu blok(A), seluruh bagian kayu masih basah setelah ditiriskan (B), pemasangan kayu blok pada pohon mangga (foto oleh : Nelly-Ditlinhor)
Proses/Cara penyiapan kayu blok....
5. Aplikasi Umpan Protein
Umpan protein merupakan makanan bagi lalat buah, sehingga akan menarik lalat buah jantan dan betina. Lalat buah yang tertarik akan mengisap-isap umpan protein yang telah bercampur dengan racun sehingga lalat tersebut akan segera mati teracuni.
Aplikasi dilakukan dengan cara spot spray pada 4 (empat) sisi kanopi tanaman di permukaan bawah daun. seminggu sekali atau dimulai saat pembungaan. Kebutuhan larutan untuk 1 ha (100 pohon) adalah 1 liter umpan protein dengan 9 liter air ditambah 50 ml insektisida malathion.
6. Pelatihan Petani dan Petugas
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial sekaligus sosialisasi tentang kegiatan pengelolaan lalat buah pada skala luas ini, dilakukan peningkatan pengetahuan bagi petugas dan petani. Materi mencakup kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan pengelolaan lalat tersebut, antara lain : cara aplikasi umpan protein, cara membuat dan memasang kayu blok, cara memonitoring populasi lalat buah, dan sebagainya.
7. Penambahan Wooden Block
Penambahan kayu blok menjadi langkah penting karena akan memperbarui tingkat efektivitas aplikasi ME dan insektisida pada pertanaman mangga. Kayu blok yang sudah dipasang sebelumnya tidak perlu dibuang, untuk memudahkan pengerjaannya dibandingkan jika harus mencabut kayu blok sebelumnya.
hidden
Gambar 6. Kayu blok yang telah dipasang pada batang mangga
(foto oleh : Nelly-Ditlinhor)
8. Sanitasi Buah Terserang
Menjaga kebersihan lokasi pertanaman mangga pada wilayah aplikasi merupakan kegiatan yang dianjurkan, karena diduga hal ini berpengaruh besar dalam mempengaruhi penyebaran dan perkembangan lalat buah di pertanaman tersebut. Sanitasi bertujuan untuk mengurangi populasi lalat buah atau memutus siklus hidupnya. Kegiatan ini dilakukan terhadap buah yang sudah rontok maupun yang masih di pohon. Buah yang terserang yang sudah dikumpulkan, kemudian dimasukkan ke dalam tong dan ditutup dengan kain kasa agar parasitoid dapat keluar.
9. Pengambilan dan Rearing Sampel Buah
Pengambilan sampel buah ini bertujuan untuk mengetahui persentase buah terserang lalat buah. Direncanakan, total buah yang akan dijadikan sampel adalah sebanyak 3.300 buah (masing-masing lokasi perlakuan dan kontrol sebanyak 1.100 buah). Pengamatan terhadap 3.000 sampel buah dilakukan dengan cara dibelah untuk mengetahui keberadaan larva lalat buah. Sedangkan 300 sampel buah di-rearing secara individual. Rearing buah dilakukan untuk menghitung analisis ekonominya serta mengukur efektivitas pelaksanaan kegiatan.
Setelah perlakuan MAT dan umpan protein, diharapkan populasi lalat buah dapat ditekan serendah mungkin. Petani diarahkan untuk mampu menguasai teknologi pengendalian lalat buah ini, sehingga populasi lalat buah dapat terjaga. Jika berhasil, bahkan zero population dapat tercapai.
10. Farmer Field Day (Sehari di Lapang Bersama Petani)
Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan keberhasilan teknologi yang diterapkan.
11. Penyusunan Database dan Pelaporan
Agar kerjasama ini dapat dilihat perkembangannya dan dapat dievaluasi bersama maka penting dibuat database antara lain meliputi populasi lalat buah, spesies lalat buah, dan analisis kehilangan hasil. Database rekaman kegiatan, baik berupa catatan (data, notulensi) maupun dokumentasi perlu dikelola dengan baik.
Akhirnya, diharapkan kerjasama dalam pengelolaan skala luas hama lalat buah ini dapat menekan populasi lalat buah pada tingkat yang sangat rendah dengan ramah lingkungan, sehingga mutu produk mangga meningkat. Disamping itu kegiatan ini merupakan rintisan menuju Area Low of Pest Prevalence(ALPP) atau area dengan tingkat prevalensi hama yang rendah, sehingga dalam jangka panjang dapat memperlancar upaya perdagangan mangga ke dunia internasional. Pengelolaan hama lalat buah skala luas pada buah tropika ini merupakan yang pertama kali di Asia.
[Dwi Iswari, Anik Kustaryati, Nelly Saptayanti; Direktorat Perlindungan Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura]

1 komentar:

Cari Blog Ini

Memuat...

Pengikut